Filsafat Ilmu ontologi Fisika
Jurnal penelitian Ontologi Fisika
Ontologi Fisika Dalam Filsafat Ilmu
D
I
S
U
S
U
N
Oleh
Nama : DaninSahputra Ritonga
Nim : 1920100229
Prodi : Pendidikan Agama Islam
M. Kuliah : Filsafat Ilmu
Semester : 4
E-mail : danisahputra31@gmail.com
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PADANG SIDIMPUAN ( IAIN)
FAKULTAS TARBIAH DAN ILMU KEGURUAN ( FTIK)
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( PAI)
ABSTRACT
ONTOLOGY OF PHYSICS IN THE PHILOSOPHY OF SCIENSE
This study aims to find out more about the ontology of physics, especially in the subject of philosophy of science. Through the history of physics can also be a lesson to become a scientist, because knowledge is based on the experience of physicists. The history of physics and the philosophy of science are interrelated, namely philosophy. It can be taken seriously if the reflection on the history of science has been previously understood. So the philosophy of science based on ontology, epistemology and axiology as the foundation for the development of science in physics education can make a positive contribution in teaching physics. In addition, understanding the philosophy of science can foster social interaction of students to solve the problems at hand. So that our knowledge will be deeper with the existence of this physical ontology philosophy,
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih mendalam tentang ontologi Fisika Terkhususnya pada Matakuliah Filsafat Ilmu. Melalui sejarah fisika juga dapat menjadi pembelajaran untuk menjadi ilmuan, karena Pengetahuan berdasarkan pengalaman ilmuan fisika. Sejarah fisika dan filsafat ilmu saling berkaitan yaitu filsafat Dapat dipahami dengan sungguh-sungguh jika refleksi tentang sejarah ilmu pengetahuan telah dipahami sebelumya. Maka filsafat ilmu berdasarkan pada ontologi, epistemologi dan aksiologi sebagai landasan pengembangan ilmu Dalam pendidikan fisika dapat memberikan kontribusi yang positif dalam mengajarkan fisika. Selain itu dengan Pemahaman filsafat sains dapat menumbuhkan interaksi sosial peserta didik untuk memecahkan masalah-masalah Yang dihadapi. Sehingga pengetahuan kita akan lebih mendalam dengan Adanya Filsafat Ontologi fisika ini,
PENDAHULUAN
Filsafat ilmu pegetahuan memiliki Perbedaan dengan sejarah ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, filsafat dapat dipahami Dengan sungguh-sungguh jika refleksi tentang Sejarah ilmu pengetahuan telah dipahami Sebelumya. Oleh karena itu, sangatlah penting Bagi kita untuk meilihat bagaimana proses Perkembangan ilmu pengetahuan dalam Konteks historisnya sehingga kita dapat Memperoleh pemahaman yang umum dan Menyeluruh tentang proses perkembangan Ilmu pengetahua tersebut. Penting juga dalam Memahami isu-isu utama filsafat dan ilmu Pengetahuan.
Hakikat fisika sebagai proses Yang melahirkan keterampilan proses sains fisika yang menjadi keterampilan kunci atau keterampilan Sentral pada penemuan ilmiah (ilmuwan atau peneliti) dan pembelajaran (guru dan siswa). Dimensi statik dari sains menggambarkan sains sebagai produk sistem ide-ide (konten sains), Yang pada dasarnya merupakan produk dari aktivitas riset dan pengkajian dalam sains (Farmer Dan Farrell, 1980). Dimensi ini akan dibahas dalam hakikat sains fisika.
PEMBAHASAN
Sejarah Munculnya Filsafat Fisika
Manusia sejak awal kemunculannya merupakan makhluk hidup dengan rasa penasaran yang tinggi terhadap fenomena alam yang terjadi disekelilingnya, seperti: seperti terbit tenggelamnya matahari, kemunculan gerhana, pergantian musim, pola yang dibentuk rasi bintang dan lain-lain, Pengamatan terhadap suatu fenomena alam yang terjadi dapat memudahkan aktivitas manusia sendiri. Seperti memilih waktu untuk bercocok tanam yang tepat, navigasi pelayaran, migrasi hewan buruan dan masih banyak lagi. Dengan segala keterbatasannya pada zaman tersebut manusia mencoba menjelaskan mengapa fenomena tersebut terjadi. Penjelasan yang berkaitan dengan hal-hal mistis pun bermunculan. Seperti pada zaman Yunani kuno misalnya, fenomena alam seperti petir dikaitkan dengan Zeus sang dewa petir.
Penjelasan yang berkaitan dengan hal-hal mistis mudah diterima oleh kalangan awam, tetapi hampir tidak memiliki aspek aplikatif terkecuali mengandalkan kebetulan. Sains secara umum menawarkan penjelasan rasional terhadap keteraturan alam semesta Pun, perkembangan ilmu pengetahuan pada peradaban manusia terjadi tidak secara serempak, misalnya suku maya telah mengembangkan pengertian angka desimal dan nol (0) sebelum banga eropa mengenalnya. Pencarian penjelasan rasional terhadap fenomena alam di eropa dimulai pada abad ke-6 SM. Diperakarsai filsuf-filsuf Yunani seperti PYTHAGORAS dengan Teorema Geometri dan teori musiknya.
Pada awal zaman pertengahan, ilmu pengetahuan secara umum termasuk fisika dan kajian filsafatnya mengalami perlambatan perkembangan di Eropa alih-alih sains mencapai kejayaanya diluar eropa yakni pada zaman keemasan Islam di Timur Tengah.Filsuf sekaligus ilmuwan terkemuka Islam banyak bermunculan pada periode ini seperti diantaranya: Ibnu Sina, Omar Khayyam, Abū Rayḥān al-Bīrūnī, Al-Farabi dan lain-lain. Ibnu Sina misalnya menentang gagasan tentang gerak yang diajukan oleh Aristoteles ; menurut Aristoteles keadaan alami benda adalah diam, sehingga benda yang bergerak akan menjadi diam pada suatu saat, sementara Ibnu Sina percaya benda yang bergerak menjadi diam akibat adanya suatu agen eksternal yang melawan gerak benda seperti gesekan udara.[14][15] Sementara itu Abū Rayḥān al-Bīrūnī menyatakan bahwa perubahan gerak diakibatkan oleh percepatan atau perlambatan.Abu’l-Barakāt al-Baghdādī menentang teori Aristoteles yang menyatakan bahwa gaya mengakibatkan gerakan dengan kecepatan konstan. Al-Baghdādī memandang bahwa kecepatan dan percepatan adalah yang berbeda, dan besar suatu gaya berbanding lurus terhadap besar percepatan yang dihasilkan alih-alih terhadap kecepatan.
A. Menempatkan Konteks Mengajar Fisika
Dalam Hal Ini, Kajian komprehensif dari kemajuan dalam fisika (Thacker, 2003) mencatat bahwa kurikulum dan kursus telah didesain dengan peningkatan pemahaman konseptual dan keterampilan kognitif yang diperlukan untuk memahami dan menerapkan konsep-konsep fisika, lingkungan pengajaran yang menarik dan situasi (seperti “kehidupan nyata”). Strategi “keterlibatan Interaktif” diklaim lebih efektif daripada metode tradisional dalam meningkatkan pemahamannya siswa pada konsep yang sulit (Hake, 2002).
Peningkatan belajar siswa melalui partisipasi dalam demonstrasi kelas sebagai lawan dari pembelajaran pasif (Crouch et al, 2004). Membangun prinsip - prinsip konstrukti-vis, untuk memberikan peningkatan kesem-patan bagi siswa untuk mendiskusikan sifat dan isi pengetahuan. Setelah pendidikan sains pada akhir abad kedua puluh, konstruktivisme diakui bahwa berarti selama interaksi siswa dengan lingkungan dan menganjurkan pengalaman aktif dengan dunia fisik.
Konteks filsafat ilmu dibidang Fisika sebagai subjek ilmu yang berusaha menjelaskan keteraturan alam semesta tentu Seharusnya juga bisa menjelaskan bagaimana peran Tuhan dalam keteraturan tersebut. Selama Ini, buku-buku teks fisika seolah-seolah melepaskan begitu saja peran Tuhan. Jika ditarik dalam Sebuah kesimpulan sederhana, dapat dikatakan bahwa tidak ada hubungan antara Tuhan (agama) dan fisika sebagai subjek ilmu, Jadi filsafat dengan fisika Keterhubungannya sangat erat dalam membina Ilmu baik ilmu teknologi dan juga ilmu keagamaan.
Hakikatnya, Fisika merupakan kumpulan pengetahuan, cara berpikir dan cara penyelidikan. Menurut para ilmuwan, hakikat ilmu Fisika dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Fisika sebagai produk kumpulan pengetahuan (body of knowledge) yang dapat membentuk fakta, konsep, prinsip, hukum, rumus, teori, dan model. Kumpulan pengetahuan ini diperoleh dari keingintahuan manusia terhadap beberapa hal di sekitarnya, baik interaksi dengan sesama maupun dengan alam, Contohnya produk keingintahuan tentang gravitasi dan energi listrik dalam kehidupan sehari-hari.
2. Fisika sebagai proses cara penyelidikan (a way of investigating) yang menggambarkan para Ilmuwan bekerja dan melakukan penemuan, Fisika sebagai proses memberikan gambaran tentang pendekatan untuk menyusun pengetahuan serta berkaitan dengan fenomena, dugaan, pengamatan, pengukuran, penyelidikan dan publikasi.
3. Fisika sebagai sikap setiap langkah dan proses membutuhkan sikap ilmiah dan cara berpikir (a way of thinking) yang baik, antara lain rasa ingin tahu, rasa penasaran yang besar, rasa percaya diri, jujur dan terbuka.
PERANAN FILSAFAT SAINS DALAM MENUNJANG KETERBATASAN SAINS
Sesuai dengan yang telah diuraikan pada bagian atas maka pada bagian ini masih dalam
contoh bidang fisika. Fisika mencatat pernah terjadi tragedi keilmuan tatkala teori Heliosentris yang diumumkan oleh Copernicus dan Galileo dicap sebagai pemikiran sesat oleh gereja.
Sementara itu, begawan fisika Isaac Newton hanya menempatkan Tuhan sebagai penutup
sementara lubang kesulitan yang belum terpecahkan dan terjawab dalam beberapa teorinya.
Setelah kesulitan itu terjawab, maka secara otomatis intervensi Tuhan tidak lagi diperlukan.
Bahkan, suatu saat ketika Napoleon Bonaparte bertanya kepada Laplace tentang peran Tuhan
yang tidak disinggung dalam karyanya, Laplace men-jawab dengan tegas bahwa peran Tuhan
tidak diperlukan dalam penjelasan keteraturan alam raya ini.
Fisika sebagai subjek ilmu yang berusaha menjelaskan keteraturan alam semesta tentu seharusnya juga bisa menjelaskan bagaimana peran Tuhan dalam keteraturan tersebut. Selama ini, buku-buku teks fisika seolah-seolah melepaskan begitu saja peran Tuhan. Jika ditarik dalam sebuah kesimpulan sederhana, dapat dikatakan bahwa tidak ada hubungan antara Tuhan (agama) dan fisika sebagai subjek ilmu.
Pemahaman seperti ini amat berbahaya, sebab bisa menyebabkan kecakapan ilmu yang dimiliki menjadi terbelah. Lambat laun ini akan mengarah pada pemisahan agama dan ilmu
pengetahuan. Beberapa karya yang ada kemudian mencoba memasuki wacana pengetahuan
dan agama ini. Beberapa karya dari Indonesia yang bisa disebutkan antara lain Akbar dkk (2008), Agung R (2007), Febri P.A. (2007), Firdaus (2004), Shihab (1997) dan Baiquni (1995).
Sayangnya, karya-karya tersebut lebih terkesan sekedar justifikasi (pembenaran) temuantemuan pengetahuan dengan ayat-ayat suci. Dan tindakan seperti ini, bisa dikatakan sebagai
tindakan yang gegabah dan ceroboh sebab fakta-fakta pengetahuan bisa salah (Al Attas, 1995). Oleh karena itu, mengupas wacana pengetahuan dan agama tanpa melihatnya dari sudut
pandang filsafat ilmu sama saja hanya akan menemukan fatamorgana akademis.
Dalam kajian ilmu pengetahuan, dikenal adanya tiga landasan yang menjadi pondasi
sebuah ilmu. Ketiga landasan itu adalah ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Ontologi
merupakan landasan yang mempersoalkan tentang hakikat objek kajian. Epistemologi menyoal tentang bagaimana cara yang benar untuk mendapatkan pengetahuan dan aksiologi berbicara tentang tujuan dan kegunaan ilmu. Dengan demikian, setiap jenis pengetahuan mempunyai ciriciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi), dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Dari sisi ontologi, ada 2 paradigma yang menjadi basis bagi pengetahuan untuk mengembangkan dirinya, yaitu paradigma naturalisme dan supernaturalisme (Suriasumantri, 2005).
Ontologi adalah teori keberadaan obyek ilmu. Metafisika (di sebalik fisika) adalah kajian filsafat yang mendasar dan komprehensif mengenai seluruh realita atau tentang keberadaan (segala sesuatu yang ada, atau being), yang mencakup metafisika umum (ontologi) dan
metafisika khusus (antara lain kosmologi dan teologi). Ontologi (ontos artinya keberadaan, logos artinya ilmu) berfokus pada kajian tentang hakikat keberadaan.Epistemologi adalah teori pemerolehan pengetahuan. Epistemologi (berasal dari kata episteme yang artinya pengetahuan dan logos yang artinya ilmu) ialah cabang filsafat yang bertalian dengan teori pengetahuan yang meliputi sumber, penemuan, kesahihan, dan limitasi pengetahuan.
SIMPULAN DAN SARAN
Filsafat ilmu berusaha menjelaskan hakekat ilmu fisika yang mempunyai banyak Keterbatasan, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang padu mengenai berbagai fenomena Alam yang telah menjadi objek ilmu fisika itu sendiri, dan yang cenderung terfragmentasi. Untuk Itu, filsafat ilmu berperan dalam
1. menghindarkan diri dari memutlakkan kebenaran ilmiah dan Menganggap bahwa ilmu sebagai satu-satunya cara memperoleh kebenaran;
2. melatih berfikir Radikal tentang hakekat ilmu;
3. menghidarkan diri dari egoisme ilmiah, yakni tidak menghargai Sudut pandang lain di luar bidang ilmunya; dan
4. melatih berfikir reflektif di dalam lingkup ilmu. Dengan demikian filsafat ilmu merupakan telaah yang berkaitan dengan objek apa yang dikaji Oleh ilmu fisika (ontologi), bagaimana proses pemerolehan ilmu fisika itu (epistemologi), dan apa Manfaat ilmu fisika (aksiologi).
Hakikat fisika terdiri atas fisika sebagai proses dan fisika sebagai Produk. Produk fisika diantaranya adalah fakta, data, konsep, hukum (hukum Newton, hukum Coulomb, dan lain-lain), prinsip, aturan, teori (teori kinetik gas, dan lain-lain) dan model (model Atom, model galaksi, dan lain-lain). Fisika sebagai aktivitas (proses) riset dan pengkajian dengan Menggunakan metode ilmiah yang mengandalkan keterampilan-keterampilan proses (observasi, Berhipotesis, eksperimentasi, dan sebagainya). Saran untuk pembaca adalah pentingnya filsafat Ilmu, dengan filsafat melatih berfikir radikal tentang hakekat ilmu dan menghidarkan diri dari Egoisme ilmiah, yakni tidak menghargai sudut pandang lain di luar bidang ilmunya, serta dengan Berfilsafat melatih berfikir reflektif di dalam lingkup ilmu.
DAFTAR PUSTAKA
1. Akbar, M., Kurdi, M., dan Supriyadi. 2008. Kebenaran Teori Gravitasi Newton dan Teori Gravitasi
2. Einstein Ditinjau dari Perspektif Teori Gravitasi dalam Al-Qur’an. Prosiding Seminar Sains Dan Pendidikan Sains 2008 UKSW
3. Al Attas, Syed Muhammad Naquib. 1995. Islam dan Filsafat Sains. Bandung: MMiza
4. Baiquni, Achmad. 1995. Al Qur’an, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Ed.1, Cet.3. Jakarta: Dana Bhakti Wakaf
5. Blackburn, S. 2016. Dictionary of Phylosophy. Oxford: Oxford University Press.
6. Carey, S. S. 2015. Kaidah-kaidah metode ilmiah (Terjemahan Irfan M. Zakkie). Bandung: Nusa Media.
7. Dagli, Carnel K. 2007. Perbandingan Epistemologi Mulla Sadra dan Filsafat Fisika. The GGeorg Washington University, USA.
8. Farmer. W. A., & Farrell, M. A. 1980. Systematic instruction in science for the middle and high School years. Reading, MA: Addisson-Wesley.
9. Febri P.A. 2007. Menyibak Misteri Kekal Akhirat tinjauan Ilmu Fisika. Yogyakarta: Kreasi Total Media
10. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Filsafat_fisika#:~:text=Filsafat%20fisika%20adalah%20interdisiplin%20ilmu,ruang%20dan%20waktu%2C%20serta%20realitas.&text=Filsafat%20fisika%20memberikan%20perhatian%20terhadap%20seluruh%20aspek%20fisis%20dari%20realitas.
11. Crouch, C. H., Fagen, A. P., Callan, J. P., & Mazur, E. (2004). Classroom demonstrations: Learning tools or entertainment? American Journal of Physics, 72(6), 835 – 838.
12. DeHaan, R. L. (2005). The impending revolution in undergraduate science education. Journal of Science Education and Technology, 14 (2), 253 – 269
Komentar
Posting Komentar